Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Agustus 2012

Akhir Tiga

Biar menjadi elegi,cedera pada historial.
Jangan memicu anestesi.
Biar dendam lama menikahi hasutan.

Semoga ada yang menantikanmu,
seperti aku menunggu kosmik ke tiga.
Sampai nanti duka menetas luka.
Jangan terkapar sesudah dieksekusi.
Sebuah posting dari blog lama yang kebetulan Tuhan rencanakan untuk saya lihat kembali. Yang Tuhan rencanakan agar saya meresapinya. Agar saya lebih baik. Agar saya memaafkan diri.

Anggap semua normal.
Anggap semua baik-baik saja.
Anggap tidak pernah ada konflik.
Anggap tidak pernah remedial.
Anggap tidak pernah punya pacar.
Anggap tidak pernah putus.
Anggap tidak pernah jatuh cinta.
Anggap tidak pernah sakit.
Anggap tidak pernah nyeri.
Anggap tidak pernah luka.
Anggap tidak pernah hidup.
Anggap tidak pernah bernafas.
Anggap tidak pernah lahir.
Dan semuanya akan menjadi normal saja.

Agar Semua Tercukupkan

Jangan meratap,
segala yang sudah sedap.
Tak perlu merubah komposisi,
bila tak ada oposisi.

Anemia melanda
pada darah yang mengganda.
Memerahkan darah biru.
Menumbuk kasta menjadi satu.

Cukupkan,
cukupkan,
cukupkan.
Tercukupkan.



Untuk diri sendiri yang selalu tidak merasa cukup

Siklus Tawa

Umpamakan tawa seperti awan.
Yang bila bertemu matahari akan menggemuruh menjadi rintik,
lalu jatuh.

Meluncur,
mengguyur.
Seperti jutaan anak panah.
Menusuki bumi.

Menyatu mengisi lebak.
Mencipta kali.
Penuh sabar,
mengalir jadi laut.


Didedikasikan untuk diri sendiri agar tidak terlalu lama bergaul dengan kegembiraan

Petisi

Tersiar sebuah petisi.
Terketik minus dalam aksara.
Sekuat tenaga menjaring tajuk yang sudah disebar.
Nihil.

Hanya menghirup durja dalam-dalam.
Ah,andai tiada elegi yang kau bisiki,
mungkin tokoh roman tidak perlu berubah jadi antagonis.
Tetap jadi linear.
Tak usah mati.

Dia dan Selamanya

Dia dan selamanya.
Selalu ada,
tanpa duka.
Kenangan bahagia

Dia dan selamanya.
Selalu maya,
namun nyata.
Membungkam lebih dari kata

Dia dan selamanya.
Masih ada
dan selalu ada.
Selalu ada

Mosi Peserta Remedial

Kami ingin amnesti
atas salah terka soal.
Yang menciderai nilai
sehingga kami remedial

Kami tidak selalu mengacu pada aksara
karena kami bukan apatis.
Yang menghadap untuk mencari tuntas
demi SKBM semata

Ini hanyalah mosi.
Bukan aksi demonstrasi.


Didedikasikan untuk sistem pendidikan Indonesia

Pelacur Mati

Rekonstruksi komposisi riwayat,
menjerat hingga punah jadi sejarah.
Nafas buangan memadamkan lilin,
dan mulai saling cumbu.
Hasrat berkelamin diurai sempurna dekomposer.
Pacuan beronde-ronde.

Konfliknya,
nyata.

Tubuh tak berfenomena membiru di trotoar.
Dibuang teman kencan yang sara lagi mara.
Wajah eksotis dipoles sensualitas kesegaran darah.
Sebagian mengering.
Hingga malam mengalami anemia.
Kaku dalam alibi.


Didedikasikan untuk Perempuan yang terjerat sulitnya harga sehingga harus dilacurkan

Subtitusi

Cari subtitusi.
Walau jutaan sekalipun ,asal bisa mengisi satu tak apa.
Tak apa,karena memang saya harus berlari,
berlawanan arah.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Utarakan

Saat kita berdua
kita terlalu banyak tertawa
Padahal kita simpan banyak tanya
Selalu tak sempat dan tiada disempatkan tergambarkan oleh kata

Kita berdua diantara kata,
diantara tanya.

Mungkinkah kita ada kesempatan
Ucapkan tanya,
memberi jawab
dan hidup sebagaimana mestinya?

Pernah

Aku pernah di atas awan
Segalanya hebat
Seperti anggur ranum
harumnya memabukkan

Aku pernah menjadi raja
membuatku selalu digdaya
Menggodaku untuk tanpa rasa
Mengganas bak Rahwana

Kini aku terbakar matahari
akibat terlalau tinggi
Lalu jatuh
dengan patuh

Biarpun begitu
kau takkan pernah melihat aku hangus
takkan pula melihat menangis
Karena kelambu memelukku

Rabu, 22 Agustus 2012

Perempuan Yang Menunggu

Kamu menunggu yang hilang,
seperti ibuku menunggu mendidihnya air yang ia rejang
Padahal kamu tahu yang hilang itu telah menjadi katalis,
tapi kamu masih menanti.

Hujan telah berhenti menetes.
Menyederhanakan bumi,
dari polusi.
Tapi kamu masih menunggu.

Suatu ketika kamu melengking
Mungkin saat itu kamu sadar
bahwa kenyataan menamparmu lebih sakit,
dari biasanya.

Perempuan yang menunggu,
hentikan kegiatanmu.
Tidak perlu menunggu
pada yang tidak punya rasa.

Menonton Berdua

Saya diam, kamu diam, kita diam
Lalu kusadari aku dan kamu tidak berdekatan
Tidak juga berjauhan
Kita berada dalam kosmos telemosi

Kita saling melihat
Kita saling mendengar
Tapi kita tidak bersama
Kita saling menonton.

Saling membodohi dalam tayangan.
Sambil membunuh waktu,
kita menonton berdua.
Tapi, tetap tidak bersama.

Minggu, 12 Agustus 2012

Berbeda


Syahdan ketika atlas letih menanggung bumi.
Kulit Lututnya kian luruh renta.

Mungkin bumi tidak akan lama lagi berdiri tegak.
Masih mampu berdiri barang tentu,
namun tidak seperti dahulu.
Pasti berbeda...

Ini bukan tentang seseorang.
Aku hanya membicarakan diriku di hari esok.
Saat kamu tidak lagi memintaku makan malam agar aku tidak kelaparan saat tengah malam.
Dan paginya kamu tidak lagi menarik selimutku agar kamu bisa melanjutkan memasak sarapan dengan tenang.

(atau kamu menarik selimutku karena khawatir tidak ada yang menghabiskan makanan yang kau masak?)

Dalam banyak hal kita berbeda.
Dalam banyak hal kita saling mencibir.
Kucibir pemikiranmu lalu kau cibir kelakuan keanak-anakanku.
Ada kalanya kita merasa bahwasanya kita saling menyalahkan,
namun aku memahaminya bahwa kita saling bermediasi untuk kata maaf.

Keadaan sudah berbeda.
Seperti halnya kita berbeda selera tentang makanan manis.

Lalu yang muncul hanya proyeksi pertanyaan
kamu kapan kembali?